They say a person needs just three things to be truly happy in this world: someone to love, something to do, and something to hope for.
 
And he thinks, he already has those things. Does that mean he gets his happiness back?


Informasi Dasar 
NamaArsène LeGrand
野村健介 (Nomura Kensuke)
Code NameUnseen
Tanggal Lahir25 Desember
Tempat LahirKaysersberg, Prancis.
Umur26 tahun
KebangsaanDulu: Prancis
Sekarang: Jepang
PekerjaanWinery owner
 Novelist
 Ex-assassin
Informasi Fisik 
Jenis KelaminLaki-laki
Warna RambutCokelat gelap
Warna MataCokelat gelap
Tinggi Badan181 cm
Berat Badan67 kg

Arsène tumbuh menjadi anak yang baik. Hidup di kalangan pembunuh sejak umur delapan tahun tidak membuatnya menjadi sosok yang dingin dan kejam. Ia adalah sosok yang hangat. Pembawaannya pun begitu tenang dan tak gampang terusik. Ia tak pernah terlihat kacau dan serampangan karena Arsène telah mengatur diri untuk tak menunjukkan sisi kacau dalam dirinya sejak kecil.

Ia juga tumbuh menjadi anak yang sopan di bawah asuhan Kenjirō, ayah angkatnya. Kesopanan mungkin sudah mendarah daging dalam diri Arsène. Oleh sebab itu, kebanyakan orang yang berada di dekatnya akan merasa nyaman karena kesopanan tersebut. Namun tak jarang pula orang-orang sekitarnya merasa sulit untuk mempertahankan topik karena, terkadang, Arsène lebih memilih tak banyak bicara jika tidak sedang suasana hati yang baik. Ia lebih banyak diam ketika suasana hatinya buruk.

Arsène akan bersikap formal terhadap orang asing, tetapi jika ia sudah merasa nyaman dan pantas, sikap formal nan kaku itu akan terganti oleh sikap yang lebih santai darinya.

Tanpa disangka, Arsène pun bisa melempar gurau atau canda kepada orang-orang yang berbicara dengannya, tentu canda atau goda yang sudah dipertimbangkan terlebih dahulu. Ia lumayan luwes dalam bergaul, sebenarnya.

Ia pun pandai menyembunyikan perasaan. Ia bisa dengan mudah menutupi perasaan gundah dengan ekspresi tenang. Pada dasarnya, Arsène memang selalu menahan diri sejak dulu hingga sifat itu terbawa sampai sekarang. Dan di lain sisi, ia memang tak pandai menunjukkan perasaan selain rasa positif. Bibirnya akan terkatup rapat dan tidak mengucapkan satu kata pun jika ia sedang berada dalam suasana hati yang buruk dan hanya akan berpura-pura bahwa ia baik-baik saja.

Dan semua sifat itu akan sirna ketika ia bekerja. Arsène bisa menjadi sosok yang berdarah dingin di saat dirinya menjalankan tugas. Ia tak peduli pada siapapun yang nyawanya ia renggut— kecuali dalam situasi tertentu. Jika mereka yang mengenalnya mengetahui bagaimana Arsène bekerja, kemungkinan besar mereka akan menjauh secara perlahan. Oleh karena itu, Arsène menyembunyikan identitas tersebut serapi mungkin dari orang-orang yang mengenalnya, kecuali orang-orang tertentu.

Tetapi saat ini, Arsène hampir tak pernah lagi menunjukkan sisi gelapnya, atau mungkin sisi gelap itu memang mulai pudar semenjak ia bertemu dengan seorang gadis yang kemudian mengubah hidupnya. Ya, Arsène memutuskan untuk berhenti dari pekerjaan kelamnya yang merenggut banyak nyawa manusia.


Ia tak berharap ‘tuk dilahirkan, namun Dia membuatnya terlahir di dunia ini. Arsène LeGrand, dialah seorang anak yang tak diharapkan kehadirannya di dunia, bahkan oleh Ibunya sendiri. Tetapi Dia memilih mengabaikan, Dia memilih menorehkan tinta merah pada putihnya hidup si anak.

“Aku tak mengerti mengapa Ibu membenciku.”

Pernah sekali ia menanyakan hal itu kepada cermin, di hadapan dirinya sendiri yang masih belia. Ia mencari-cari kesalahan apa yang ada pada dirinya sampai menimbulkan kebencian, tapi ia tak mendapat satu pun jawaban. Yang ia lihat hanyalah sosok anak 8 tahun dengan luka pada sekujur tubuhnya. Apa luka itu yang membuatnya dibenci? Tidak, luka itu adalah hasil dari kebencian yang dilampiaskan kepada dirinya.

Arsène LeGrand. Dilahirkan untuk dibenci oleh Ibunya sendiri. Dilahirkan untuk menanggung luka-luka yang diciptakan Ibunya sendiri. Dilahirkan untuk mencicipi kejamnya kehidupan.

■♤■

❝Satu permintaanku...❞

❝Tolong singkirkan hidupnya...❞

■♤■

Siapa yang akan menyangka jika ia mengharapkan seseorang untuk menyingkirkan hidup sang Ibu? Tak ada. Kalimat itu terucap dari bibir bocah delapan tahun. Kalimat itu diucapkan dengan jelas olehnya. Tak satupun orang akan percaya jika mereka mendengar cerita ini, Tetapi kisah ini nyata. Arsène LeGrand benar-benar mengatakannya di hadapan seorang pembunuh.

■♤■

Dan kemudian penyesalan datang

Ia hanya terdiam di depan makam

Dengan air mengalir di wajah

Entah itu hujan atau tangisnya

■♤■

❝Penyesalan selalu datang di akhir. Biarkan ini menjadi pelajaran bagimu.❞

Seseorang berkata begitu. Ia menoleh untuk mendapati seorang pria berwajah ramah berdiri di belakangnya.

❝Seharusnya aku tak melakukan permintaan konyol dari seorang bocah delapan tahun jika tahu kau akan seperti ini.❞

Ia tak lagi merasakan hujan menyerang ubun-ubunnya. Ia terlindungi oleh payung hitam milik si pria baya.

❝Jadi, apa bayaranmu?❞

■♤■

❝Bawa saja aku, Paman.❞

■♤■

Jawaban itu mengubah hidupnya.

Kensuke Nomura. Begitu si pria baya memberinya nama. Tak ada lagi anak tak berdaya dengan luka di tubuhnya. Ia telah digantikan oleh seorang anak dengan kehidupan mapan. Namun wajahnya sama, pribadinya sama, dia adalah anak yang dulu kita panggil Arsène LeGrand.

Ingatannya tentang Madeleine LeGrand—Ibunya— memudar. Ingatan akan masa lalunya telah digantikan oleh kenangan indah bersama Kenjirō Nomura. Masa suram di Prancis digantikan oleh kehidupan mewah di Jepang.

Ini adalah pertama kalinya ia mengenal kata bahagia.

Dan pertama kalinya ia memanggil seorang pria dengan sebutan Ayah.

■♤■

❝Kensuke, kelak kau akan menggantikanku.❞

❝Kau memiliki kemampuan yang diluar dugaan, kau adalah anak yang berbakat.❞

❝Kau benar-benar adalah anakku.❞

■♤■

Ia dididik dan dilatih menjadi seperti Kenjirō, namun ia tak menolak.

Di saat itu pula ia sadar, mengapa ia dilahirkan di dunia ini,

yaitu untuk mengikuti jejak Kenjirō,

menjadi seorang assassin.


Bertahun-tahun ia tak lagi mengenal kata kepedihan, bertahun-tahun ia hidup tenang. Meski pemandangan merah seringkali ia saksikan, ia tak merasa sungkan. Ia telah terbiasa.

Akan tetapi, kebahagiaannya kembali direnggut.

Ia menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri bagaimana si brengsek itu menghabisi nyawa Ayahnya, bagaimana pisau itu menancap tepat ke jantung Ayahnya.

Dan ia kembali merasakan kepedihan 'tuk kedua kalinya. Ia kembali merasakan kehilangan.

Ia tak bisa bernapas untuk sejenak. Ia kehilangan seluruh kebahagiaan dan ketidakbahagiaannya.

Sekarang, ia tak memiliki itu semua.

Dan saat itu pula adalah debutnya. Saat itulah pertama kalinya ia merenggut nyawa seseorang dengan tangan sendiri. Ia membunuh pembunuh sang Ayah, bersih tanpa jejak dan bekas.

Dialah pembunuh ulung penerus Kenjirō Nomura, Unseen.

Namun...

Ia harus kehilangan kenangan indah bersama Kenjirō. Trauma yang terlalu berat adalah penyebabnya.

Dia lupa akan identitasnya sebagai anak Kenjirō Nomura. Ingatan yang masih menempel hanyalah...,

■♤■

❝Siapa itu Kensuke Nomura?❞

❝Aku?❞

❝Ah..., kau salah.❞

❝Namaku adalah Arsène LeGrand.❞

■♤■

... masa kecilnya yang suram bersama Madeleine LeGrand, dan penyesalan lama yang kembali datang.


RELASI

RELASI LAINNYA

Nama       Hubungan
Lorraine LeGrandNenek
 Lorraine adalah nenek Arsène. Arsène hanya pernah bertemu dengan beliau dua kali, yaitu di pemakaman Ibunya ketika umurnya delapan tahun dan 17 tahun setelahnya di Kaysersberg, ketika Arséne mengunjungi kediaman lamanya. (Self-plot)
若王子五郎 (Gorō Wakaouji)Kepala koki dan seorang informan
 Gorō adalah anak dari seorang ketua pelayan dan informan di mansion Kenjirō. Setelah ayahnya meninggal, ia mengikuti jejak sang ayah sebagai informan bagi Arsène, juga sebagai kepala koki di mansion itu karena bakatnya dalam memasak. Gorō dikenal sangat setia mendampingi Arsène, sama halnya dengan ayahnya yang setia kepada Kenjirō. Ketika Arsène kehilangan ingatannya tentang Kenjirō, Gorō-lah yang membimbingnya dan membantunya dalam menjelaskan hal-hal yang sekiranya perlu dijelaskan, dia pula-lah yang membantu Arsène kembali bangkit setelah masa sulitnya. Karena Gorō lebih tua beberapa tahun, ia lebih sering mengambil peran seperti seorang kakak bagi Arsène.

Madeleine LeGrand

Madeleine LeGrand. Seorang wanita berparas indah, namun memiliki kehidupan yang tak seindah dirinya. Arsène tak pernah tahu bagaimana kisah seorang Madeleine karena wanita itu tak pernah bercerita.

Seringkali Arsène melihatnya menulis sesuatu, di malam hari, di bawah penerangan yang remang. Entah apa yang ditulis, Arsène kecil tak pernah mencari tahu. Ia hanya menyaksikan dari kejauhan, secara diam-diam melihat apa yang dilakukan sang Ibu. Madeleine sering menulis sembari menangis. Kertas menjadi korban air matanya yang menetes. Surat yang ditulisnya bercampur dengan air mata, tinta dari pulpen meluber, mengaburkan tulisan yang ada, namun bisa dibaca walau samar.

Arsène melihatnya setiap malam.

Dan setiap malam pula, ia melampiaskan kesedihannya kepada Arsène.

Kala itu Arsène hanyalah bocah yang tak mengerti apa-apa. Ia tak tahu kesedihan macam apa yang diterima Madeleine, ia tak tahu bagaimana pedihnya kehidupan Madeleine. Yang ia tahu, Madeleine selalu menyiksanya sambil menangis.

Arsène yang beranjak dewasa semakin sadar, bahwa saat itu ia masih terlalu kecil untuk menjadi tempat bercerita Madeleine. Tetapi ia lelah dan gegabah. Ia mengambil keputusan sepihak.

Andai kata Arsène tak mengucapkan permintaan itu, mungkin Madeleine akan berubah seiring berjalannya waktu. Mungkin Madeleine akan lebih terbuka kepadanya. Mungkin Madeleine akan tetap hidup, menemaninya, menjadi satu-satunya keluarga Arsène yang ia sayangi...

Tetapi itu hanyalah khayalan. Madeleine tak akan kembali. Ia telah pergi meninggalkan Arsène. Dan Arsène-lah yang membuatnya pergi dari dunia ini.

Menyesal, tapi tak ada gunanya.

Andai kata Madeleine masih berada di sini, mungkin Arsène bisa mengetahui kisah Ibunya. Mungkin Arsène bisa bertanya, siapakah Ayahnya.

Mungkin mereka bisa memperbaiki hubungan yang ada...

Tetapi sayangnya,

Madeleine tak akan kembali.

Kenjirō Nomura

Arsène bertemu dengannya di sebuah persimpangan jalan yang sepi. Kala itu si kecil Arsène menangis dengan luka-luka pada tubuhnya, luka hasil pahatan Madeleine. Dia, Kenjirō Nomura, berada di sisi Arsène. Dari awal Arsène menangis hingga ia menghapus air matanya, Kenjirō berada di sana, menemani dengan diam.

Hingga akhirnya Arsène mengatakan hal itu— sebuah permintaan untuk menyingkirkan hidup Ibunya sendiri. Dia tak pernah tahu jika ternyata ia meminta kepada seorang pembunuh.

Ia tak pernah tahu jika takdir telah berkehendak. Tapi saat itu, ia hanyalah seorang bocah delapan tahun yang tidak mengetahui apa-apa.

■♤■

Kenjirō melakukan permintaannya bahkan tanpa menolak. Peristiwa itu berlangsung dengan cepat, Arsène sendiri bahkan tak bisa mengingatnya lagi.

Satu hal yang Arsène ingat,

Ibunya tergeletak di lantai rumah dengan darah bercucuran dan Kenjirō yang berada di dekatnya. Ia tak peduli kepada sosok pembunuh tersebut. Namun, tanpa diketahui Arsène, Kenjirō menangis dalam diam, dengan pisau berlumur darah Madeleine di tangannya.

■♤■

Kenjirō mengasuh Arsène. Merawat Arsène. Membahagiakan Arsène layaknya anak sendiri. Ketulusannya benar-benar bak ketulusan seorang Ayah. Dan Arsène benar-benar merasakannya.

Arsène menyesal karena telah mengucapkan permintaan tak berakhlak. Tetapi ia tak menyesal telah menjadi bagian dari Kenjirō.

■♤■

❝Kau mirip dengan Ibumu.❞

❝Seharusnya, kau menjadi anakku.❞

❝Ah..., ya. Aku lupa bahwa sekarang kau memang sudah menjadi anakku, Kensuke.❞

■♤■

Tetapi, di kala Arsène mulai terbiasa dengan kebahagiaan itu, Kenjirō pergi lebih dulu, menyirnakan kenangan-kenangan indah mereka layaknya ayah dan anak.

Tak sedikit pun Arsène mengingat Kenjirō meski ia mencoba lebih keras.

Tetapi, hanya dengan melihat sebuah foto yang terpajang di dalam kamar Kenjirō, sudah cukup membuat Arsène tahu bagaimana hubungan kekeluargaan mereka.

■♤■

Dan sejak awal, Arsène memang tak tahu apa-apa tentang seorang Kenjirō Nomura. Dan pada akhirnya Kenjirō hanya ditakdirkan untuk dilupakan, tanpa sempat menceritakan bagaimana kisah hidupnya bersama Madeleine.

Louis Xaverius Montgomery (Freyr)

❝Bunuh dia.❞

Arsène sudah biasa mendengar kalimat itu. Orang-orang biasanya membayar dengan jumlah banyak dan mengatakan hal itu kepadanya. Dan ia sendiri sama sekali tak menolak. Ia melakukan pekerjaannya, melakukan tugasnya dengan bersih. Semua yang ia kerjakan berjalan dengan lancar tanpa adanya cacat. Ya, itu karena Arsène adalah pembunuh yang handal.

Namun baru kali ini ia mengalaminya. Perasaan tak nyaman itu datang, namun ia tak menunjukkannya. Wajahnya tetap tenang seolah-olah permintaan itu permintaan yang wajar. Permintaan dari seorang Ibu yang ingin membunuh anaknya sendiri, Arsène mati-matian menganggap itu adalah hal yang wajar.

Padahal, dalam lubuk hatinya, ia bertanya-tanya,

■♤■

❝Mengapa anda ingin membunuh anak anda sendiri?❞

■♤■

Akhirnya pertanyaan itu tercetuskan. Ia penasaran akan apa alasan yang mendasari permintaan itu. Namun alasan tersebut terdengar konyol di telinga Arsène.

Ia tak bisa menerima alasan itu.

■♤■

❝Dia tak bersalah. Dia tak melakukan kesalahan apa-apa. Namun mengapa Anda begitu membencinya? Hanya karena kekurangan yang ia miliki dan anda merasa malu?❞

■♤■

Rasanya, Arsène seperti kembali kepada masa lalunya. Ia seperti melihat Ibunya sendiri, namun tanpa siksaan. Bayang-bayang wajah Madeleine berkelebat, ia tak bisa menghindari bayangan itu...

■♤■

❝... Jika itu yang anda mau, maka saya akan mengambil nyawa anak anda.❞

■♤■

Tidak, Arsène tidak melakukan itu. Pertama kalinya mereka bertemu, ia seperti melihat dirinya di masa kecil sebelum ia pergi. Dan ia tak bisa melakukan tugasnya dengan benar.

Ini aneh. Tangannya sama sekali tak bergerak. Ia tak memiliki keinginan untuk melakukannya. Ia hilang minat...

Arsène LeGrand tak bisa membunuh seorang Louis Xaverius Montgomery.

■♤■

❝Louis Xaverius Montgomery...❞

❝Itu namamu?❞

❝Aku tak akan berbohong. Tetapi, aku tak bisa membunuhmu.❞

❝Jadi, aku akan membawamu pergi sebagai gantinya.❞

■♤■

Arsène hanya diam ketika ditanya apa alasannya. Hanya senyuman tenang yang ia berikan. Ia tak berminat menjawab, karena ia sendiri tak tahu mengapa ia seperti itu. Satu sisi dari dirinya mengatakan ia bodoh, namun sisi yang lain mengatakan itu adalah hal yang wajar.

Di saat itu pula, Arsène merasa ia masih memiliki sisi manusia. Walau hanya segelintir.

■♤■

❝Mulai sekarang kau akan tinggal bersamaku.❞

❝Jangan harapkan keluargamu lagi, bahkan Ibumu tak masalah jika aku mengambil anaknya.❞

❝Selamat datang di kehidupanku, Freyr.❞

■♤■

Choi Kwang Ho (Erick)

Lagi-lagi permintaan pembunuhan. Lagi-lagi permasalahan keluarga. Tetapi Arsène tak akan menolak. Ia menerima, lagi.

Namun kali ini, ia terseret masuk ke dalam permainan orang-orang penuh iri itu. Ia sedikit banyak paham permasalahannya. Permasalahan klise— baginya. Tetapi ini menarik, Arsène bahkan begitu penasaran, bagaimana nantinya takdir menuliskan kisah mereka.

■♤■

❝Kau dibayar untuk membunuhnya? Oh, sayangnya aku akan membayar lebih jika kau melakukan hal yang lain.❞

■♤■

Selagi itu adalah hal yang dapat ia lakukan, ia akan menerimanya, demi keuntungan. Anggaplah Arsène hanya memikirkan uang, namun ia penasaran. Apa yang akan dipinta oleh sosok ini?

■♤■

❝Jangan bunuh anakku.❞

Oh, seorang Ayah yang tak ingin kehilangan anaknya, begitu pikir Arsène kala itu.

❝Tetapi buatlah skenario dimana kau seolah-olah telah membunuhnya. Kemudian, bawa dia pergi dari sini.❞

Sempat ingin bertanya, namun pria itu kembali melanjutkan,

❝Ini demi kebaikannya.❞

■♤■

Ia tak akan menolak. Bayaran yang ia dapat terbilang sangat lumayan, ia pun tak akan mendapat kerugian apabila melakukannya. Maka Arsène menerima tugas ini.

Ia membawa Choi Kwang Ho pergi bersama dirinya dan Freyr.

■♤■

❝Oh, kau sudah sadar?❞

❝Maaf sebelumnya, karena telah menyerangmu dengan tiba-tiba.❞

❝Tetapi aku tidak akan membunuhmu, Choi Kwang Ho.❞

❝Aku membawamu pergi dari tempat itu.❞

■♤■

Arsène tak berminat mengatakan alasan mengapa ia membawa Choi Kwang Ho pergi. Biarlah pria itu mengetahui dengan sendirinya.

■♤■

❝Kau sudah terikat bersamaku. Sekarang, jangan menampakkan diri di hadapan keluargamu lagi, Erick.❞

■♤■

Hanya itu yang ia katakan, sebuah perjanjian.

Madilyn Crawford (Maddy)

❝I've met a woman with the most bewitching deep blue eyes...❞

❝And I'm dreadfully in love.❞

■♤■

Penggalan kalimat dalam surat yang mendeskripsikan bagaimana perasaan seorang Felix Mendelssohn kepada Cécile Mendelssohn pernah ia beritahukan kepada Madilyn Crawford. Seorang gadis yang tanpa sadarnya telah menarik perhatian seorang Arsène LeGrand bahkan sejak pertama kali sang pria melihatnya.

Bukan tanpa sebab dirinya mengutip kalimat itu, melainkan karena satu hal.

Secara tak langsung, ia menyatakan perasaannya terhadap sang gadis yang juga memiliki mata biru memikat.

Ia tahu gadis itu masih belum menyadari perasaannya ketika ia menyampaikan kalimat tersebut. Oleh sebab itu ia tak mengutarakan secara terang-terangan. Atau karena sebab lain—

Karena Arsène masih begitu ragu untuk menyatakan perasaannya sendiri. Satu ketakutan menyeruak; sesuatu yang tak sesuai harapan.

Namun pada akhirnya pengakuan itu ia ucapkan, setelah berbagai tekanan dalam diri sendiri; perasaan yang meluap.

■♤■

❝Maaf, tetapi aku memiliki perasaan lebih terhadapmu.❞

Satu kalimat yang pertama kalinya lolos dari ranum Arsène; sebuah pengakuan cinta. Madilyn Crawford, gadis pertama yang berhasil memikat hatinya. Gadis pertama yang berhasil melunakkan hati Arsène.

Memiliki rasa terhadap gadis itu kembali menyadarkannya bahwa ia tetaplah seorang manusia yang masih memiliki hati dan perasaan.

■♤■

Dan sesuatu yang ia anggap telah menghilang dari dirinya, kini kembali datang ketika satu kalimat balasan dari gadis itu ia terima—

"Saya juga menyukai Anda."

—kebahagiaan.

Perasaan berbalas, bukanlah rasa yang hanya bertepuk sebelah tangan.

Apakah kau tahu betapa kalimat itu sangat berpengaruh kepada Arsène?

Ya, mungkin akan terdapat banyak perubahan dalam hidupnya setelah itu.

Misc. Facts
Memiliki pekerjaan lain sebagai seorang penulis novel dan menggunakan nama yang diberikan Kenjirō sebagai nama pena, yaitu Kensuke N.
Kebanyakan novel yang ia tulis adalah novel fiksi bergenre crime dan thriller. Tak jarang pula mengemas pengalaman membunuhnya dalam sebuah novel yang diatur sedemikian rupa agar tak sama persis dengan kejadian yang sesungguhnya.
Ingatannya tentang Kenjirō Nomura memang telah hilang, namun ia mencoba untuk percaya bahwa Kenjirō adalah seseorang yang penting baginya, terbukti bahwa ia masih menyimpan segala hal tentang pria tersebut di dalam mansion peninggalan Kenjirō.
Kekayaan yang ia miliki saat ini setengahnya adalah peninggalan Kenjirō. Setengahnya lagi adalah hasil kerjanya menjadi seorang assassin yang dibayar mahal karena keahliannya.
Ia memang menempati mansion milik Kenjirō, namun Arsène masih menyewa apartemen di kawasan Roppongi.
Beberapa kali dalam setahun ia mengunjungi Kaysersberg, kampung halamannya dulu, untuk mengunjungi makam Madeleine. Sampai saat ini Arsène masih terbayang masa lalunya dan dihantui oleh penyesalan yang dalam.
Meski ia menyesal, ia sama sekali tak membenci Kenjirō yang notabenenya adalah pembunuh Madeleine.
Sangat menyukai kopi hitam. Setiap pagi tak pernah absen menyesap minuman tersebut.
Ia sering dijuluki sebagai pria yang old-fashioned karena ia tidak begitu akrab dengan kemajuan dan perubahan, tetapi bukan berarti ia enggan mengenal kemajuan tersebut.
Arsène tak memiliki ketertarikan dalam teknologi canggih, tidak seperti sahabatnya, Freyr. Maka dari itu ia cukup malas jika harus berurusan dengan teknologi. Tetapi ia tidaklah buta terhadap hal tersebut.
Kenjirō telah mengajarkan banyak hal kepada Arsène demi menunjang karirnya di masa mendatang. Salah satu yang diajarkan Kenjirō adalah cara memainkan alat musik. Oleh karena itu Arsène mahir dalam memainkan biola dan piano.
Arsène sempat pernah bekerjasama dengan Freyr dalam melakukan pembunuhan terhadap seseorang yang sangat penting. Kala itu ia membutuhkan bantuan Freyr untuk membobol sistem keamanan yang ketat. Namun siapa sangka jika pada akhirnya mereka akan dipertemukan kembali dengan cara yang berbeda.
Ia sadar bahwa ia telah melakukan kesalahan dalam karirnya dengan memutuskan untuk tidak mengakhiri hidup Freyr dan Erick. Dia menganggap itu sebagai bentuk ketidakprofesionalan, tapi Arsène tak menyesalinya. Ia hanya akan terus menyembunyikan kebenaran tersebut. Link
Writer's Note
Halo! Writer dari Arsène di sini.
Terima kasih telah menyempatkan diri untuk membaca penjelasan karakter Arsène.
Semua yang dituliskan dalam carrd ini (mulai dari profil sampai misc. facts) murni hasil dari khayalan saya sendiri selaku writer Arsène. Jika ada kesamaan dalam cerita, itu adalah murni sebuah ketidaksengajaan.
Saya menggunakan Osamu Dazai dari Bungou Stray Dogs sebagai gambaran Arsène. Semua art/gambar/gif yang saya gunakan dalam carrd ini bukanlah milik saya.
Penjelasan karakter ini akan selalu diperbarui seiring berkembangnya karakter Arsène. Kemungkinan akan banyak penambahan informasi-informasi lain di waktu mendatang.
Jangan sungkan untuk menghampiri saya jika ingin membangun relasi dengan Arsène atau hanya sekadar plot biasa. Saya menerima segala bentuk ajakan relasi/plot asalkan masih dalam batas wajar. Mari berteman dengan Arsène~!
Terima kasih.